London, 3 Juni 2020
Angin berhembus cukup kencang,
tak seperti biasa. Langit pun tertutup awal tebal. Aku hanya mampu duduk
terdiam memandangi keadan di luar sana. Sekilas aku melihat sederetan foto yang mengingatkanku
pada kehidupan dulu. Entah mengapa tiba-tiba aku merindukan tanah air dan para
sahabatku. Apakabar mereka sekarang ? ingatanku kembali pada 9 tahun silam.
Jakarta, 1 Juni
2011
Hari ini adalah pengumuman hasil
ujian nasional seluruh Indonesia. Aku yang duduk di bangku SMP juga harap-harap
cemas menantikan hasilnya. tentunya mengharapkan hasil yang terbaik karena tak
sabar ingin merasakan belajar di sekolah ternama yang diperebutkan oleh ribuan
orang itu. SMAN 1 Jakarta. Ketika pengumuman itu keluar ternyata namaku
menempati posisi teratas dengan hasil yang sangat memuaskan. Yah, sekolah
favorit itu sekarang ada di depan mata.
Aku berlari menuju rumah dan
mengabarkan hal ini kepada orangtuaku. Awalnya mereka sangat bangga karena aku
bisa mendapat nilai terbaik. Namun, air wajah mereka berubah drastis ketika ku
melontarkan keinginan untuk masuk ke sekolah ternama itu. Aku tak tahu apa yang
sedang mengisi fikiran mereka. Mengapa semua jadi seperti ini? Bukankah selama
ini mereka yang selalu mendukungku untuk melanjutkan jenjang pendidikan ke sana?
Tetapi…
Ayah : “nak, dengarkan ayah dulu. Sepekan lalu
ayah melihat bagaimana pergaulan anak-anak SMA
sekarang. Ternyata semua itu
diluar dugaan ayah. Ilmu bisa didapat dimanapun, tetapi akhlak
dan ilmu agama itu susah sekali”.
Aku : “lalu ayah ingin memasukkan aku kemana?
Ayah : “ayah mau kamu masuk ke pesantren,
bagaimana menurutmu?”
Aku : “apa, aku gak salah denger yah?
Pesantren? Emang kenapa? Ayah mau ngebuang aku ya?”
Ayah : “bukan begitu sayang. Pesantren itu jauh
lebih baik dari sekolah apapun. Ilmu dunia bisa di cari
dimana saja, tetapi ilmu akhirat
sangat jarang ditemukan.”
Anak : “apa gak ada sekolah lain yah? Aku gak mau
!”
Ayah : “ tapi tetap kali ini kamu harus ikut
ayah. Suatu hari nanti kamu akan tahu alasan ayah ini dan ayah yakin ini adalah pilihan terbaik.
Besok kamu harus sudah rapih karena ayah akan membawa kamu kesana.”
Keesokan
harinya aku pergi ke sekolahku yang dulu dan pamit dengan teman-temanku.
Kebanyakan dari mereka sangat menyayangkan keputusanku ini. Tetapi aku tak
mengindahkan komentar mereka karena bagaimanapun itu tidak akan mengubah
keputusan ayah. Dalam perjalan, aku hanya duduk terdiam memandangi jalan. Aku
sama sekali tak menoleh ke ayah. Rasa benci ini sudah bertumpuk. Aku hanya bisa
menangis dalam hati. Beberapa jam perjalanan telah kulewati dan sekarang aku
sudah berada di depan gerbang penjara suci itu.
Aku
tidak langsung masuk kesana, bagiku kaki ini sangat sulit untuk dilangkahkan.
Tetapi ayah mendesakku. Sesampainya aku langsung ditempat dalam sebuah kamar
sepit dengan berpuluh-puluh orang. Aku tak yakin apakah aku sanggup bertahan
dalam keadaan yang seperti sekarang ini. Sementara ayah langsung mengurusi
administrasi pendaftaranku. Tak harus menunggu lama, ayah datang ke kamarku dan
langsung pamit untuk segera pulang. Apa-apaan ini? Apa maksud ayah
meninggalkanku sendiri ditengah sekumpulan orang-orang yang tidak kukenal dan
hanya menitipkanku pada salah seorang ketua kamar disin?. Fikiranku tak
menentu. Ayah hanya memberikanku beberapa nasihat sebelum akhirnya pergi.
Keadaan yang begitu ramai membuatku tak tahan untuk bertahan di kamar itu
hingga akhirnya kuputuskan untuk pergi ke tempat yang sepi. Tapi justeru disana
aku mendapati seorang anak sebayaku sedang mengamuk di depan ibunya karena tidak
mau masuk ke pesantren ini. Seorang anak yang akhirnya ku dapati sebagai teman
sekamar dan sekelasku.
Kami
mencoba untuk menjalani hidup di pondok ini. Kami dituntut bangun setiap jam 3
pagi untuk melaksanakan shalat tahajud berjamaah. Terkadang aku dan temanku ini
sering kabur untuk mandi dan kembali lagi tidur hingga subuh. Tapi malangnya
nasib kami, kami tertangkap oleh bag. Ibadah dan mau tidak mau kami harus
menerima hukuman. Paginya kami harus masuk kelas yang berada tidak jauh dari
asrama. Lagi-lagi nasib tak berpihak pada kami. Kami baru memakai baju setelah
bel berbunyi karena setelah subuh tadi kami tertidur. Hukuman kedua kami
terima. Hari pertama di kelas masih dilalui dengan semangat, namun hari kedua
dan seterusnya kami selalu dilanda kantuk yang sangat berat. Bagi para santri
ketidakhadiran guru merupakan satu kesempatan besar untuk menghilangkan rasa
kantuk ini, yaitu tidur berjamaah. Fenomena yang sangat langka terjadi di
sekolah luar. Alasan yang sering digunakan sih selalu karena bangun tahajud.
Pulang
sekolah kami harus shalat berjamaah dzuhur lagi, setelah itu pergi mengantri
untuk makan. Ada satu hari dimana para santri berebut untuk mengantri panjang
pada hari yang disebut sebagai hari “ayam”. Setelah itu kami harus mengantri
lagi untuk mandi sore. Hidup kami serasa tak lepas dari antri dan bel. Kami
kira malam harinya bisa beristirahat, tapi ternyata ada kegiatan pengajian
kitab hingga jam 10 malam. Benar-benar keseharian yang membuat kami jenuh
berada disini.
Sebelum
tidur kami merencanakan sesuatu. Kami memutuskan untuk kabur sebelum tahajud.
Tepatnya jam dua malam kami berusaha melewati pintu belakang dan terus berjalan menjauhi pondok. Tak terasa lelah
kaki ini melangkah dan kami menemukan sebuah mobil terbuka berisi karungan beras.
Kami naik keatas dan tertidur. Ketika terbangun kami mendapati sang supir dan
beberapa santri telah berada tepat di depan kami. Ternyata santri itu adalah
bagian keamanan dan bahwa mobil yang kami tumpangi adalah mobil Ummul Quro. Untuk
ketiga kalinya nasib tidak memihak pada kami. Kejadian ini diproses dan orang
tua kami di panggil. Saat itulah aku mengutarakan alasan atas peristiwa ini,
mudah-mudahan saja ayah berubah fikiran dan memindahkanku. Namun yang terjadi
justeru sebaliknya, aku malah semakin mendapat ancaman akan dimasukkan ke
pesantren salafi. Tidak. Akhirnya kuturuti saja kata-kata ayah.
Setelah
kejadian itu aku menjadi dekat dengan ketua organisasi atau sebutannya ketua
ISPI. Kakak itu kerap sekali menasihatiku delam hal kebaikan dan berusaha untuk
merubahku.karena kedewasaan dan kasih sayangnya aku ingin ia menjadi kakak
angkatku mengingat aku anak pertama dan ia juga tidak memiliki adik. Namun
sayang tak semudah itu. Ia hanya mengatakan bahwa semuanya sama, tidak ada
alasan untuk mangistimewakan seseorang.
Aku
dan temanku yang tomboy itu mulai mengerti arti kehidupan yang sebernarnya.
Mulai saat itu kami tidak lagi menentang peraturan, karena tugas kami
sebenarnya hanyalah belajar hingga ujian tiba. Karena kesungguhan dan
kesabaran, aku mendapat juara di kelas. Teman-teman bahkan guruku mungkin tak
percaya, tapi tak kuhiraukan.
Satu
tahun berlalu. Menginjak kelas 4 pk kami
sudah disatukan dengan kelas reguler. Entah mengapa kami berdua terlihat begitu
akrab dengan dua orang dari kelas reguler. Mungkin karena kesamaan pemikiran,
tapi mereka sangat patuh dan bijak. Karakter kami sangat berbeda. Aku yang
cinta dengan ilmu dan teknologi, temanku yang tomboy sangat menyenangi traveler
dan bela diri, salah satu yang dari kelas reguler sangat islami dan dewasa,
sedang yang satunya lagi menyenangi seni. Di tahun inilah kami mendalami bidang
masing-masing dan menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan. Di sela-sela itu
kami selalu berbincang mengenai masa depan dan pastinya sesuai dengan bakat
kami pastinya.
Disini
memang banyak sekali acara yang diselenggarakan, tapi yang paling kami nanti adalah
acara PORSENI. Yang membuat tertarik adalah drama dan penampilannya. Tapi tidak
bagi temanku yang penggila seni ini. Kami kira ia antusias dengan beragam
seninya, tapi terpaku pada mascotnya. Awalnya kami rasa itu hal yang wajar
selagi tidak kelewat batas, tapi itulah sumber masalahnya. Karena nafsu yang
tak bisa ditahan, ia sudah berulang keli bertemu dengan orang yang ia kagumi
itu. Memang sepintar-pintar tupai melompat akan jatuh juga. Dan singkat cerita
ia harus menanggung resiko itu.
Beda
halnya denganku yang mencintai teknologi. Aku selalu membawa barang elektronik
apapun untuk diteliti dan temanku yang sangat agamis itu mengetahui. Setelah melewati
serangkaian perdebatan akhirnya aku mengalah juga dan menyalurkan hobby ini
pada jalan yang lain. Nah, temanku yang agamis itu sendiri menyukai bidang
jurnalistik dan hal lain yang berkaitan dengan sastra. Sedangkat yang tomboy
itu adalah seorang pecinta karate.
18
januari 2013
Pelantikan
pengurus ISPA-ISPI UQI. Tak kusangka kami semua mendapat posisi penting dalam
kepengurusan ini. Aku yang sangat mencintai b.inggris akhirnya dilantik menjadi
b.bahasa, yang tomboy menjadi b. keamanan, si pecinta seni pastinya b.kesenian
dan satu lagi yang paling dewasa diantara kami menjadi ketua ISPI. Rasa bangga,
terharu dan takut pasti ada. Namun kami tepis dengan rasa tanggung jawab atas
amanah ini.
Suatu
malam sebelum tidur aku di kejutkan oleh si pecinta karate yang membawa poster
perlombaan karate se-Indonesia di bandung. Itu hal yang tak mungkin. Namun
tekadnya sudah bulat. Ia akan berusaha bagaimanapun caranya dan apapun
resikonya. Keesokan harinya aku tidak melihat dia baik dikelas maupun di kamar.
Setahuku pihak pesantren tidak membolehkannya mengikuti lomba itu. Selidik demi
selidik ternyata anak itu kabur. Hmmmh… mana ada bagian keamanan kabur karena
lomba.
Dua hari kemudian ia datang
kepadaku dengan membawa piala besar. Bertepatan dengan itu pula ia dipanggil ke
persidangan. Sidang itu berlangsung cukup lama. Kami berharap cemas. Tapi
ternyata keputusan akhir menyatakan bahwa ia harus dikembalikan ke orangtuanya.
Sebelum pergi ia meminta untuk menghadap pimpinan pesantren untuk menyerahkan
piala yang diterimanya karena hanya itu yang bisa ia persembahkan untuk
pesantren tercintanya. Kami tentu sangat merasa kehilangan dia.
Peristiwa
ini tak membuat semangatku surut. Aku bahkan ingin menunjukkan yang terbaik
yang bisa aku lakukan. Aku harus membayar semua usaha temanku itu. Ia rela
dikeluarkan hanya untuk membawa pesantren ke kancah internasional, lalu mengapa
aku tidak?. Jujur aku belum menerima kepergiannya. Aku banyak menghabiskan
waktu sendiri dan mengamati kehidupan di pesantren ini. Tak tahu mengapa aku
terpaku pada seorang wanita yang menjadi petugas kebersihan di pondok ini. aku
beranikan diri untuk bertanya tentang kehidupannya dan alasan mengapa ia sampai
bekerja seperti ini. ternyata ia adalah seorang ibu dari 3 orang anak tanpa
suami. Aku kagum karena ibu ini mampu menghidupi anak-anaknya sendirian dan ternyata
anak pertamanya sekarang sedang kuliah ilmu kedokteran di salah satu
universitas ternama di Jakarta karena mendapat beasiswa. Yang lebih
mengagrtkanku ternyata anak pertamanya itu adalah ketua ISPI yang dulu pernah
dekat denganku dan menjadikanku seperti sekarang ini. sungguh pelajaran yang
sangat berharga.
Banyak
sekali pengalaman yang aku dan temanku dapatkan selama menjadi pengurus. Si
ketua ISPI yang sukses dengan kepengurusan dan dunia jurnalnya. Si pecinta seni
yang sukses dalam segala bidang seni dan aku yang akhir-akhir ini selalu
mengikuti olympiade dan penelitian pun memperoleh kemenangan tingkat nasional.
Rasa bangga dan puas memenuhi diriku. Inilah hadiah yang ingin aku persembahkan
untuk ayah, teman dan pondokku.
London,
3 Juni 2020
Lamunanku terhenti ketika ada pesan masuk di
ponselku. di dalam pesan itu tertulis bahwa akan ada acara reuni angkatanku di
Indonesia. Sudah pasti aku tidak bisa hadir karena jarak yang jauh ini.
kukabarkan pada ketiga sahabatku dulu. 3 hari lagi juga akan ada pemilihan
ilmuan terbaik tahun ini. jadi, mustahil rasanya kalau aku pulang ke Indonesia
hanya 2 hari saja.
Tetapi
aku mendapatkan kejutan yang tak terduga. Baru saja ingin melangkahkan kaki
keluar rumah, tiba-tiba ada suara ketukan pintu. Sekarang didepanku sudah ada
dua orang wanita berjilbab yang wajahnya tidak asing bagiku yang akhirnya
kusadari bahwa mereka adalah sahabatku di pesantren dulu. Si jurnalis dan si
penggila seni ! ternyata mereka juga sedang ada disini untuk menjalankan tugas
dan sengaja datang ke rumahku untuk menghadiri pengumuman ilmuan terbaik tahun
ini. tunggu, mana si karateka itu? Sudah lama aku tak mendapat kabar
tentangnya, apa kabar ia sekarang?. “kau masih memikirkan si tomboy karateka
itu? Tenanglah, sekarang ia sudah mendirikan beberapa cabang ilmu bela diri di
jepang. Mungkin ia sibuk sekarang. Tapi yang pasti ia tak akan pernah
melupakanmu sebagai sahabatnya”. Ucap si jurnalis.
Dan
hari ini adalah hari yang sangat menegangkan bagiku. Ini adalah saatnya semua
orang mengetahui penelitian siapa yang akan di kenal dunia. Aku harus bisa
mendapatkan penghargaan ini demi sahabatku dan demi….
PM.
Ummul Quro Al-Islami, 5 Januari 2015
“Selamat datang para santri kelas Niha’ie. Kali ini
kalian memiliki serangkaian ujian yang harus dilalui untuk memenuhi persyaratan
kelulusan dan menjadi alumni. Dalam ujian Niha’ie ini mencakup imamah, paper
dan Amaliah Tadris. Ujian ini akan sangat bermanfaat bagi kehidupan kalian
pasca kelulusan nanti. Lakukanlah sebaik mungkin”.
Bagi
kami santri kelas akhir memang diwajibkan untuk mengikuti serangkaian ujian
Niha’ie sebagai bekal hidup di luar kelak. Aku yakin aku bisa melakukan yang
terbaik demi teman-temanku yang selalu ada disampingku dan demi seorang ayah
yang membuatku seperti sekarang ini. hanyasaja terakhir kali aku mendapat kabar
bahwa ayah sedang sakit keras . meskipun tak ada pengalaman apalagi dalam hal
penyusunan paper dan AT atau praktik mengajar, aku harus berusaha menjadi yang
terbaik.
London,
5 juni 2020
“Baiklah, presentasi selanjutnya akan dipersembahkan
oleh seorang mahasiswi asal Indonesia. Kepadanya kami persilahkan”.
Benar
apa yang dikatakan gruruku ketika di pesantren dulu. Proses penyusunan
penelitian dan presentasi ini sama persis dengan penyusunan paper dan AT dulu.
Rasanya tak asing lagi melakukan semua ini. ya, hanya mengalir seperti air.
Begitu mudah. Yang berbeda hanyalah ketidakhadiran satu sahabatku itu. Tanpanya
kesuksesan ini tak ada artinya. Saat kembali lagi ke kursi, aku mendapat
sambutan hangat dari kedua sahabatku. Sama seperti…
PM.Ummul
Quro Al-Islami, 10 Februari 2015
Pelukan hangat kedua sahabatku
sangat meyakinkanku bahwa aku pasti menjadi yang terbaik setelah menyaksikan
praktik mengajarku. Semangat ini semakin kuat untuk menghadapi ujian-ujian
selanjutnya hingga ujian terakhir. Setelah itu ada satu kegiatan lagi yang
harus kami jalani untuk perbekalan, kegiatan ini sering disebut sebagai “Rihlah
Ruhiah”. Persis satu hari sebelum keberangkatan, aku mendapat kabar duka. Aku
sama sekali tak mempercayainya. Tidak mungkin ! orang yang selama ini sangat
berperan dalam kehidupanku tak mungkin tega meninggalkanku secepat ini. tak
mungkin ayah tega meninggalkanku sendiri dalam kondisi seperti ini. mustahil !
Kini
sama sekali tak terfikir olehku tentang rihlah, yang ada hanyalah wajah ayah.
Aku masih belum bisa menerima kenyataan ini. aku hanya menghabiskan waktu
selama seminggu di rumah dengan diam. Bahkan ketika kedua sahabatku datang dan
berusaha menghiburku aku tidak menggubrisnya. Bagiku ini adalah suatu pukulan
keras bagiku.
Tapi
aku tak boleh terus menerus seperti ini, aku harus siap menghadapi masa depanku
sendiri. Sehari sebelum wisuda aku putuskan untuk datang kepesantren dan
menemui sahabatku. Mungkin saja ini yang terakhir kali. Dalam heningnya malam
aku bermunajat kepada Allah. Ketika hendak menggelar sajadah, betapa
terkejutnya aku melihat seseorang yang ada di depanku. Si jurnalis yang sangat
taat pada agama. Ia langsung memelukku. Aku merasa bersalah dan meminta maaf
atas semua yang telah kulakukan kepadanya kemarin. Tapi yasudahlah, yang lalu
biar berlalu karena tak akan pernah kembali. Hari ini adalah hari pelepasan
kami, bersama kami memanjatkan doa untuk hari yang istimewa ini.
Ratusan
calon wisudawan telah memenuhi gedung utama. Tak lama lagi prosesi pelepasan
para santri angkatan 16 akan dimulai. Entah apa yang aku rasakan saat itu.
Antara rasa bahagia, haru dan sedih bercampur. Rasa itu menjadi semakin tak
terkendali ketika Pimpinan Pesantren hendak mengumumkan lulusan terbaik
angkatan kami. ratusan pasang mata terpejam seraya memanjatkan doa dalam hati,
berharap nama mereka yang disebut.
“baiklah,
mungkin sekarang adalah waktu yang sangat menegangkan bagi para calon wisudawan
kita, karena saya akan mengumumkan siapa wisudawan terbaik tahun ini. tentunya
semua itu tak terlepas dari jerih payah dan kesungguhan anak-anakku dalam
melalui ujian demi ujian lalu. Semuanya tentu telah berusaha untuk melakukan
yang terbaik. Namun saya yakin bahwa pasti ada yang terbaik diantara yang
terbaik. Untuk itu kita sambut wisudawan terbaik kita ananda ………
London,
5 Juni 2020
“(nama tokoh utama). beri tepuk tangan yang meriah
untuk ilmuan terhebat kita tahun ini”. ribuan pasang mata tertuju ke arahku. Air
mata ini tiba-tiba saja mengalir. Antara perasaan bahagi dan sedih. Bahagia
karena aku mampu membawa nama Indonesia ke kancah internasional dan
membanggakan orang-orang terdekatku, dan sedih karena kebahagiaan ini tak
lengkap tanpa kehadiran seorang ayah yang sangat kucintai serta seorang
sahabatku itu. Perlahan aku berjalan kea rah panggung dan seluruh kenangan itu
terlintas dalam fikiranku. Seluruh kenangan saat pertama kali aku menginjakkan
kaki di Ummul Quro hingga namaku yang dipanggil sebagai wisudawan terbaik kala
itu.
Sebenarnya
hanya satu harapanku sekarang maupun lima tahun lalu. Aku hanya ingin bertemu
kembali dengan sahabatku. Seseorang yang mengorbankan dirinya untuk
mengharumkan nama pesantren dan seseorang yang mengajariku arti kehidupan. Tapi
mungkin itu tak akan terjadi. Hingga…
Baru
saja aku hendak melangkahkan kaki meninggalkan panggung, tiba-tiba sebuah suara
yang sepertinya ku kenal memanggil namaku. Saat ku menoleh, benar saja itu
adalah suara dari seorang yang telah lama kunantikan. Sosok itu mendekat dan
langsung memelukku di depan keramaian orang ini. kini dunia tahu betapa
hebatnya kekuatan persahabatan itu. Mengharukannya lagi dua sahabatku yang lain
berlari ke atas panggung dan memeluk kami berdua. Suara gemuruh tepuk tangan
memenuhi gedung megah ini. ya, itulah persahabatan yang tulus. Sahabat yang
selalu ada dalam segala kondisi dan bersama melewati hujan deras untuk meraih
pelangi. Ayah, terimakasih atas semuanya.
-END-
ZUMRATUL
MAZAAYAA





