Inilah
yang terkadang begitu sulit untuk dicapai. Memang adakalanya ketika kita
melihat senyuman terpancar dari wajah orang-orang yang kita sayangi seakan kita
ikut merasakannya. Tapi sadarlah, bahwa kita tidak dapat membohongi diri
sendiri. Ingin sekali rasanya hadir diantara mereka, bersenda gurau tanpa
mengenal batas. Melakukan apapun yang kita kehendaki memang menimbulkan rasa
puas tersendiri. Namun dibalik itu semua ada hal yang lebih baik lagi. Sendiri
bukan berarti mati, tetapi sedang menyiapkan seribu aksi.
Jika
kita hanya memperhatikan kebahagiaan orang lain, lalu kapan kita belajar untuk
hidup prihatin? Bagaimana jika secarik kertas yang ada dihadapanmu hanya
berwarna putih? Sungguh membosankan bukan? Ada kalanya kita membutuhkan warna
hitam, merah, biru, dan lainnya. Bagaimana pula jika sebuah masakan tidak
diberi garam sama sekali? Hambar bukan? Karena sudah banyak sekali orang yang
merasakan asam garam kehidupan. Apakah kita masih akan bertahan dengan rasa
hambar ini? Sekali-kali kita harus merasakan pahit, asam, pedas. Jangan hanya
ingin manis saja. Itu juga tidak baik karena bisa saja menimbulkan diabetes.
Tetap saja berbahaya!
Sering
kali aku melihat atau mendengar keluhan seseorang tentang kehidupan yang
menurutnya sangat tidak adil, mengerikan, membosankan, menakutkan, atau
semacamnya yang tidak memihak pada kebahagiaan. Padahal secara kasat mata kita
menilai bahwa orang itu begitu bahagia dengan kehidupannya. Bahkan mungkin
sebaliknya. Orang yang kita anggap paling menderita dan memperihatinkan
nyatanya mereka bisa merasa sebagai orang yang sangat beruntung karena memiliki
kebahagiaan yang tidak dapat dilihat oleh orang lain. Inilah fakta kehidupan.
Keadaan
semacam inilah yang ku alami saat ini. Mungkin beberapa orang menganggap aku
adalah orang yang beruntung, atau bahagia dengan kondisiku yang sekarang karena
aku mengalami nasib baik dibanding mereka. Tapi ada sisi lain yang tidak mereka
ketahui. Ada sesuatu yang mereka miliki sedang aku tidak. Salah satunya adalah
kebebasan. Ya, dari dulu aku menginginkan kebebasan untuk menentukan jalan
hidupku sendiri. Namun apalah daya karena aku ternyata masih berpangku tangan
pada orang tuaku.







0 komentar:
Posting Komentar